Minggu, 18 Juli 2021

Assalamualaikum.. halo everyone

Let me introduce myself first. My name is Fitria Lusanda and you can call me Ms Fitria or Ms Fit, as you like. I am your Daily English Teacher, so I'm gonna meet you often. Please watch this video as the example of your first assignment. Good luck :) 




Sabtu, 06 Maret 2021

 Assalamualaikum dan selamat pagi. Di bawah ini adalah contoh video monolog yang harus dibuat untuk ujian praktek Bahasa Inggris kelas XII Perhotelan dan UPW SMK Pariwisata Sumbangsih.




Sabtu, 06 Februari 2021

DAILY EXAM : CONDITIONAL SENTENCE

 Assalamualaikum, since the topic about "conditional sentence" has already finished, so it's the time to do daily exam. Do it in a piece of paper, take a picture of it, and upload it into gcr. 


Instuctions for pictures number 1-3 : Read the passage carefully and decide if the statements in another picture are true or false.




Instructions for picture number 4 : There are two groups of sentences, the left are statements and the right are suggestions, you have to match it




Instruction for picture number 5 and 6 : Read the poem carefully and decide if the statements are true or false.



Instruction for picture number 7 : Imagine that you are given special gifts from God, and create the sentence of your wants



                                                                        -Good Luck-

Minggu, 16 Desember 2018

Assalamualaykum happy people. Lama banget juga jadi manusia yang kurang ga produktif :) alhamdulillah hayati lelah banyak tugas semenjak pindah mengajar ke SMK jadi blognya sedikit terbengkalai. Di bawah postingan ini ku kirim artikel yang pernah kujadikan "andalan" waktu kirim CV ke Indigo Production buat posisi "script writer" sekitar 7 atau 8 bulan yang lalu. Kalau flashback waktu itu rasanya senang betooll waktu dapat panggilan interview untuk posisi yang ku idam-idamkan. Setelah lolos interview HRD,  ku diminta kirim karya terbaique terbaik (menurutku LOL) yang pernah dipublish. Nah jatuhlah pilihan pada artikel tersebut. Ku kirim artikelnya via email, alhamdulillah lolos seleksi, dipanggil untuk interview dan test oleh user. Waktu itu testnya diminta buat nulis script acara infotainment berdasarkan pada sebuah video wawancara artis ibukota. Selesai interview user, kemudian diriku ga mendapatkan panggilan selanjutnya sampai berbulan-bulan kemudian hahaha... Ku sadar diri juga sih, dengan kualifikasi menulisku ini belum bisa disebut sebagai profesional, yang kemudian keahliannya akan dikomersilkan. It's OK, in my opinion, semua yang terjadi atas seizin Allah, yang terbaik buatku berarti ya jadi guru, berkecimpung di bidang pendidikan, seperti yang kujalani saat ini. Ditolak rumah produksi? ga akan bikin aku patah semangat buat tetap nulis sambil terus memperbaiki teknik-teknik menulis. Although menulis ga jadi profesi utamaku, menulis tetap jadi self-healing buat jiwaku yang kadang gundah gulana gemuruh tak tentu arah butuh sarana pencurahan isi pikiran. Silakan dibaca guys artikel saya di bawah ini, buatlah diriku ini bahagia hahaha... dengan memberi saran-saran dan masukan tentang artikel saya di bawah ini. Terima kasih sudah mau membaca karya tulis sang pemula ini ya kakak-kakak dan mommies cantik.
Jika Rasa Syukur Butuh Inspirasi, Maka Cobalah Kunjungi Tempat Ini.
Oleh : Fitria Lusanda

Panti. Apa yang terbersit di benak kita saat mendengar kata ini? Ya, sebuah bangunan tempat berlindung bagi sebagian kaum marjinal. Tempat dimana pengharapan hidup penghuninya disandarkan. Ada beberapa jenis panti yang kita ketahui, seperti panti sosial, panti asuhan, panti werdha, dan panti laras. Diantara panti-panti tersebut ada yang dinaungi oleh pemerintah dan ada pula yang bernaung di bawah atap sebuah yayasan. Terinspirasi setelah kerap melihat pertanyaan di aplikasi peta daring perihal prosedur mengunjungi Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa, maka saya mengulas kunjungan singkat saya ke panti yang terletak di bilangan Jakarta Timur tersebut. Tanggal 5 Oktober 2017 saya berkesempatan untuk mengunjungi Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa. Setiap bulan muharram, sekolah tempat saya mengajar selalu mengunjungi panti-panti untuk berbagi dengan anak-anak asuh di sana.

Beberapa hari sebelum berkunjung, saya menelepon Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa untuk mendapatkan jadwal kunjungan. Hari itu, cuaca sangat cerah dan sinar mentari mengiringi langkah saya dan rombongan yang siap berbagi keceriaan dengan anak-anak asuh di panti. Setibanya di sana, kami disambut oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan petugas panti sekaligus pemandu kami selama kunjungan. Saya bercakap-cakap sebentar dengannya, beliau mengatakan bahwa sedang menunggu satu rombongan lagi yang akan berkunjung. Tak menunggu lama, datang sebuah mobil berjenis mpv yang ternyata adalah rombongan yang sedang kami tunggu. 

Kemudian, petugas mengajak kami untuk berkeliling area panti. Menelusuri jalan di samping ruangan tamu dan menaiki anak tangga menuju lantai 2, tibalah kami di ruangan pertama, yaitu ruang khusus bayi, di kaca bagian depan ruangan terpampang informasi tentang bayi-bayi tersebut, seperti nama, tanggal lahir, dan usia. Di dindingnya juga terpasang botol berisi cairan pembersih tangan, untuk digunakan oleh perawat yang akan memasuki ruangan bayi, agar tangannya sudah dalam keadaan steril ketika bersentuhan dengan para bayi. 

Karena pengunjung hanya diperkenankan untuk mengamati dari luar ruangan melalui kaca jendela, terlihat sekitar 10 bayi tertidur dengan nyaman di tempat tidur masing-masing. Sedari kecil mereka sudah dilatih untuk mandiri, bagaimana tidak, sang bayi yang seharusnya mendapat kasih sayang dan perawatan utuh dari orang tuanya, pada kenyataannya hanya ditemani satu orang perawat untuk mengurus kebutuhan mereka. “Ini banyak ya, ada yang ditemuin di kardus, di musola, di depan rumah orang, semuanya kita bawa ke panti, diurus di sini”, petugas menjelaskan kepada kami. 

Selesai melihat ruang bayi, kami diajak menaiki tangga untuk menuju ke ruangan selanjutnya, yaitu ruangan untuk anak batita, sama seperti di ruangan sebelumnya, pengunjung hanya diperkenankan untuk mengamati melalui kaca jendela. Perasaan haru menyeruak dan mata saya menjadi hangat ketika melihat mereka berguling-guling sambil memegang botol susu, tertawa, menangis, dan menatap kami dari dalam ruangan itu. Terlintas di benak saya tentang bagaimana perasaan orang tua mereka andaikan menyaksikan bayi yang dahulu mereka tinggalkan kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang lucu dan menggemaskan.



Interaksi antara pengunjung dan anak asuh melalui kaca di depan ruang batita

Selepas dari ruangan batita, kami menuju ke sebuah ruang bermain anak yang letaknya tidak jauh dari lapangan milik panti. Dapat saya lihat melalui jendela, beberapa anak berusia sekitar 4-5 tahun sedang bercanda dan berlarian, sementara yang lainnya sedang menunggu giliran untuk dipotong kukunya oleh perawat. “Ibu dan adik-adik bisa masuk ke dalam, main sama anak-anak”, demikian arahan dari petugas. Melihat kedatangan kami, seorang perawat membukakan pintu, kemudian kami diizinkan masuk. Seusai melepas alas kaki, kami masuk, anak-anak asuh di dalam ruangan memandang kami dengan tatapan ramah dan bersahabat. Nampaknya mereka memang sudah sering berinteraksi dengan pengunjung yang datang, sehingga tak lagi ada rasa sungkan ketika kami mulai mengajak mereka berkenalan, bercakap-cakap, dan bersenda gurau. Canda, tawa, dan rasa cinta menyertai kebersamaan kami kala itu. Setelah sekitar 30 menit bercakap-cakap dengan anak-anak, kami pamit untuk pulang.



Kebersamaan kami dengan anak-anak asuh di ruang bermain

Saat berjalan menuju kantor panti di bagian depan gedung, kami melewati tempat bermain luar ruangan untuk anak-anak asuh, dilengkapi mainan yang terawat, bersih, serta relatif aman untuk mereka. Kesan yang kami dapat setelah menelusuri hampir seluruh ruangan panti adalah, segenap petugas yang bekerja di panti sangat memperhatikan kebersihan area panti, lantainya bersih dari noda-noda jejak sepatu, sarana dan prasarananya dalam keadaan terawat, serta perabotnya tertata apik.

Sesampainya kami di kantor panti, saya menyerahkan bantuan berupa susu formula, bubur bayi, popok, dan kebutuhan lain kepada petugas. Sebagai ungkapan terima kasih, pihak panti memberikan kami sebuah surat yang ternyata merupakan sertifikat kunjungan. Di perjalananan pulang kami terdiam, tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Memang sudah menjadi hal lumrah bagi saya sebagai umat manusia, sangat mudah untuk menemukan kekurangan dan sulit melihat kelebihan dari suatu hal. Namun ketika melihat anak-anak asuh di panti yang matanya tetap berbinar dan senyumnya tetap merekah di tengah cobaan hidup yang sedang mereka jalani, saya seperti diingatkan bahwa sudah seharusnya kita mensyukuri apa yang kita miliki, bukan menyesali apa yang tidak kita miliki. Saya memutar kembali ingatan saya, mengingat hal-hal berharga yang saya miliki, dan ternyata tak terhitung! Mengutip sebuah kalimat dari sumber yang tidak diketahui, “Yang berharga tak selalu tercantum harga”.

Selasa, 19 Juni 2018

Assalamualaykum happy people, it's good to meet you again. Monmaap ini lagi semangat-semangatnya nulis :) Ini cuma aku atau banyak juga yang kadang suka kepikir sekilas info tentang kehidupan nanti, nanti banget, kalau seandainya orang tua terutama ibu, sudah ga bisa temanin kita lagi. Bayanginnya saja bikin aku mellow, air mata langsung genang. Bisa dibilang hubungan aku dan ibu itu dekat banget, almost semua kejadian yang aku alamin, aku ceritain ke ibu, begitupun sebaliknya. Mau cerita sedih, bahagia, memalukan, aku bagi semua sama ibu. Sebetulnya sih ibu ga memperlakukan aku dengan sweet nan lembut gitu. Ibu cenderung keras dalam ngajar aku. Contoh pertama, aku cerita tentang kejadian aku selisih paham sama temanku, tanggapan ibu itu ga belain aku, beliau bilang "Ya kamunya juga salah sih bla bla bla...". Contoh kedua, saat aku ngeluh sakit, ibu akan bilang "Itu biasa kok, makan yang banyak, minum obat, nanti juga sembuh". Ibu juga selalu paksa aku buat ngehadapin "ketakutanku", contohnya nih, aku kan punya "hubungan khusus" dengan makhluk imut nan lincah bernama kecoa. Ga tau kenapa kalau lihat dia, body aku jadi auto jingkrak-jingkrak. Pernah suatu malam entah kenapa itu kamar mandi aku dipenuhi makhluk imut itu beserta teman-temannya (mungkin mereka lagi reunian) dan parahnya tiba-tiba aku pengin pipis > < Aku bilang dong sama ibu "Bu, Pipit mau pipis tapi di kamar mandi banyak kecoa" (dengan harapan ibu bakal membumihanguskan mereka biar aku bisa pipis dengan aman dan sentosa). Ibu: "Ya ampun.. kamu sama kecoa kan gedean kamu. Pukul aja pakai sapu lidi" *lanjut nonton TV. "Ah ga berani Bu, pipit numpang pipis aja di tetangga deh ya?" *setengah nangis. Ibu: "Bener-bener ya.. ga masuk akal sama makhluk kecil gitu aja takut. Ga ada numpang pipis di tetangga, pipis sana buruan di kamar mandi!" Kalau nada ibu sudah naik jadi 4 oktaf apalah dayaku? Ambil sapu lidi, bawa aerosol, masuk kamar mandi sambil nangis *beneran nangis. Perang dimulai, tangan kanan ayunin sapu lidi kesana kemari, tangan kiri semprot aerosol. Tapi bener deh, karena "keterpaksaan" itu, aku jadi berani ngebasmi si imut + teman-temannya, kayak ada kekuatan ghaib gitu (kekuatan omelan ibu lebih tepatnya). Jadi setelah dirunut-runut, memang history perlakuan ibu ga ada yang sweet nan romantic, tapi impactnya malah jadi bagus buat diriku. Kalau dulu aku suka ngadu ke ibu kalau ada masalah, sekarang lebih ke berusaha banget buat nyelesain sendiri, cerita ke ibu pas masalahnya sudah selesai, at least sudah punya solusinya. Kalau dulu suka unek-unek sama perbuatan teman yang kurang mengenakkan, sekarang jadi lebih "ngaca", siapa tau akunya yang sikapnya ga betul. Andil ibu dalam social skill aku besar banget, ibu mempersiapkan aku sedemikian mandiri karena aku anak tunggal. Dulu suka mikir "kenapa sih gue salah terus kayaknya di mata nyokap?"  Baru sadar pas sudah dewasa, bahwa dibalik sikap ibu yang keras itu ada tujuan yang apik, mendidik aku biar bisa beradaptasi dengan baik. Makasih, Bu :)

Senin, 18 Juni 2018

Bye, fat. I won't miss you (Part 1)

Assalamualaykum happy people..... Minal aidin wal faidzin yaaa, mohon maaf lahir dan bathin :) Lamaaa betul aku ga nulis. Ya ini karena disambil nyicilin tugas kuliah yang ga nyantai, persiapan UTS, dan lagi banyak acara di sekolah tempat aku ngajar juga. Nah mumpung masih edisi leyeh-leyeh club lebaran jadi alhamdulillah ada cukup banyak waktu buat nulis, aku pengen banget sharing sedikit tentang goal aku yang kesampaian (alhamdulillah) di tahun ini. Let's read guys :) Jadi aku tuh suka banget lihatin foto-foto jadul keluargaku bareng ibu sambil cerita-cerita kapan foto itu diambil, cerita di balik foto-foto itu, dan sebagainya. Dari sekian banyak foto masa kecil aku, memang aku ga nemuin at least 1 foto dimana body aku kelihatan kurus > < Jadi memang dari kecilnya, aku tuh bodynya gempal berisi gitu, kalau menurutku sih bagus ya anak kecil bodynya berisi, jadi kelihatan sehat (berisi ya, ga sampai obesse kok :) ) Tapi ternyata "keberisian" bodyku nih awet kayak pakai formalin sampai dewasa, terlebih ada masa-masa dimana aku "gila" junkfood, kalau ga salah waktu sekolah SMK, di masa itu aku sering ngemilin pizza sampai 1 box yang ukuran large itu sendirian :( , addict banget sama ayam goreng tepung sampai-sampai 1 minggu bisa 3x makan itu. Terus ini hati mulai risih ketika ada beberapa orang yang manggil dengan sebutan "ibu". Contohnya misal pegawai minimarket: "Ada lagi tambahannya, Bu?" WHATTT?! kesel aja sih gitu rasanya dalam hati teriak-teriak "Helloooo gue tuh masih muda, Bu Bu aje lo". Kalau udah bete gitu biasanya aku curhat sama ibu. Dan you know sudah dari dulunya aku branding ibu sebagai "obat penenang" dan "malaikat pelindung", ketika nanggapin ceritaku ibu cuma bilang "Ya bagus dong dipanggil ibu, kan kamu emang calon ibu-ibu, daripada dipanggil bapak, lebih kesel mana hayo?" -__- Sangat positif ibunya. Selain dipanggil "ibu" dengan frekuensi yang lumayan sering, aku juga sering kena body shaming dari teman dan bahkan saudara, terutama kalau lagi momen kumpul keluarga. Misalnya "Pipit tambah gede aja badannya". Nah ini nusuk sih, apalagi kalau diucapinnya di depan orang banyak. Bukan ga pernah nyoba nurunin berat badan, mulai dari rutin jogging tiap minggu, ganti makan nasi pake oat, sampai ganti camilan pakai superfood macam granola dkk. Setiap 3 hari sekali nimbang dan ga ada penurunan, malah penyakit masa kecil; "asam lambung" jadi sering ngunjungin. Dan aku bertahan dengan body gempalku ini sampai akhir tahun 2017, ketika menjelang awal tahun 2018, di depan tempat kerjaku ada toko baru mau dibuka dan bagi-bagiin brosur, aku emang anaknya gitu, kalau dapat brosur pasti dibaca-baca dulu isinya tentang apa, ya siapa tau next time butuh. Eh ternyata brosur yang dibagiin itu tentang minuman herbal penurun berat badan, kalau teman-teman pernah dengar itu nama produknya herbalife. Itu brosur + slogan-slogannya menarik banget buat si pemilik tubuh gempal ini, gimana enggak? Kata "diet" yang tadinya terkesan "menyeramkan" dan "ribet" jadi terbayang menyenangkan dan mudah kalau pakai produk herbalife. Jadilah aku semangat banget nanya-nanya tentang herbalife. Dan ketika tau langsung shock + sedih... huhuhu... harga produk herbalife cenderung maharani kalau menurutku, buat 1 bulan treatmentnya bisa ngehabisin biaya kurang lebih Rp. 1.500.000an. Belum memungkinkan buatku beli produk herbalife karena gajiku juga harus ditabung untuk biaya kuliah S2. Alhasil ketika 1 lingkungan tempat kerjaku demam produk herbalife, aku ga terjangkit, padahal keinginan buat diet ini sudah ON lagi. Aku pikir semangat diet yang sudah naik ini ga boleh disia-siakan, googlinglah aku tentang metode diet yang simple dan ga butuh biaya banyak.

Assalamualaikum.. halo everyone Let me introduce myself first. My name is Fitria Lusanda and you can call me Ms Fitria or Ms Fit, as you lik...