Minggu, 18 Juli 2021

Assalamualaikum.. halo everyone

Let me introduce myself first. My name is Fitria Lusanda and you can call me Ms Fitria or Ms Fit, as you like. I am your Daily English Teacher, so I'm gonna meet you often. Please watch this video as the example of your first assignment. Good luck :) 




Sabtu, 06 Maret 2021

 Assalamualaikum dan selamat pagi. Di bawah ini adalah contoh video monolog yang harus dibuat untuk ujian praktek Bahasa Inggris kelas XII Perhotelan dan UPW SMK Pariwisata Sumbangsih.




Sabtu, 06 Februari 2021

DAILY EXAM : CONDITIONAL SENTENCE

 Assalamualaikum, since the topic about "conditional sentence" has already finished, so it's the time to do daily exam. Do it in a piece of paper, take a picture of it, and upload it into gcr. 


Instuctions for pictures number 1-3 : Read the passage carefully and decide if the statements in another picture are true or false.




Instructions for picture number 4 : There are two groups of sentences, the left are statements and the right are suggestions, you have to match it




Instruction for picture number 5 and 6 : Read the poem carefully and decide if the statements are true or false.



Instruction for picture number 7 : Imagine that you are given special gifts from God, and create the sentence of your wants



                                                                        -Good Luck-

Minggu, 16 Desember 2018

Assalamualaykum happy people. Lama banget juga jadi manusia yang kurang ga produktif :) alhamdulillah hayati lelah banyak tugas semenjak pindah mengajar ke SMK jadi blognya sedikit terbengkalai. Di bawah postingan ini ku kirim artikel yang pernah kujadikan "andalan" waktu kirim CV ke Indigo Production buat posisi "script writer" sekitar 7 atau 8 bulan yang lalu. Kalau flashback waktu itu rasanya senang betooll waktu dapat panggilan interview untuk posisi yang ku idam-idamkan. Setelah lolos interview HRD,  ku diminta kirim karya terbaique terbaik (menurutku LOL) yang pernah dipublish. Nah jatuhlah pilihan pada artikel tersebut. Ku kirim artikelnya via email, alhamdulillah lolos seleksi, dipanggil untuk interview dan test oleh user. Waktu itu testnya diminta buat nulis script acara infotainment berdasarkan pada sebuah video wawancara artis ibukota. Selesai interview user, kemudian diriku ga mendapatkan panggilan selanjutnya sampai berbulan-bulan kemudian hahaha... Ku sadar diri juga sih, dengan kualifikasi menulisku ini belum bisa disebut sebagai profesional, yang kemudian keahliannya akan dikomersilkan. It's OK, in my opinion, semua yang terjadi atas seizin Allah, yang terbaik buatku berarti ya jadi guru, berkecimpung di bidang pendidikan, seperti yang kujalani saat ini. Ditolak rumah produksi? ga akan bikin aku patah semangat buat tetap nulis sambil terus memperbaiki teknik-teknik menulis. Although menulis ga jadi profesi utamaku, menulis tetap jadi self-healing buat jiwaku yang kadang gundah gulana gemuruh tak tentu arah butuh sarana pencurahan isi pikiran. Silakan dibaca guys artikel saya di bawah ini, buatlah diriku ini bahagia hahaha... dengan memberi saran-saran dan masukan tentang artikel saya di bawah ini. Terima kasih sudah mau membaca karya tulis sang pemula ini ya kakak-kakak dan mommies cantik.
Jika Rasa Syukur Butuh Inspirasi, Maka Cobalah Kunjungi Tempat Ini.
Oleh : Fitria Lusanda

Panti. Apa yang terbersit di benak kita saat mendengar kata ini? Ya, sebuah bangunan tempat berlindung bagi sebagian kaum marjinal. Tempat dimana pengharapan hidup penghuninya disandarkan. Ada beberapa jenis panti yang kita ketahui, seperti panti sosial, panti asuhan, panti werdha, dan panti laras. Diantara panti-panti tersebut ada yang dinaungi oleh pemerintah dan ada pula yang bernaung di bawah atap sebuah yayasan. Terinspirasi setelah kerap melihat pertanyaan di aplikasi peta daring perihal prosedur mengunjungi Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa, maka saya mengulas kunjungan singkat saya ke panti yang terletak di bilangan Jakarta Timur tersebut. Tanggal 5 Oktober 2017 saya berkesempatan untuk mengunjungi Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa. Setiap bulan muharram, sekolah tempat saya mengajar selalu mengunjungi panti-panti untuk berbagi dengan anak-anak asuh di sana.

Beberapa hari sebelum berkunjung, saya menelepon Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa untuk mendapatkan jadwal kunjungan. Hari itu, cuaca sangat cerah dan sinar mentari mengiringi langkah saya dan rombongan yang siap berbagi keceriaan dengan anak-anak asuh di panti. Setibanya di sana, kami disambut oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan petugas panti sekaligus pemandu kami selama kunjungan. Saya bercakap-cakap sebentar dengannya, beliau mengatakan bahwa sedang menunggu satu rombongan lagi yang akan berkunjung. Tak menunggu lama, datang sebuah mobil berjenis mpv yang ternyata adalah rombongan yang sedang kami tunggu. 

Kemudian, petugas mengajak kami untuk berkeliling area panti. Menelusuri jalan di samping ruangan tamu dan menaiki anak tangga menuju lantai 2, tibalah kami di ruangan pertama, yaitu ruang khusus bayi, di kaca bagian depan ruangan terpampang informasi tentang bayi-bayi tersebut, seperti nama, tanggal lahir, dan usia. Di dindingnya juga terpasang botol berisi cairan pembersih tangan, untuk digunakan oleh perawat yang akan memasuki ruangan bayi, agar tangannya sudah dalam keadaan steril ketika bersentuhan dengan para bayi. 

Karena pengunjung hanya diperkenankan untuk mengamati dari luar ruangan melalui kaca jendela, terlihat sekitar 10 bayi tertidur dengan nyaman di tempat tidur masing-masing. Sedari kecil mereka sudah dilatih untuk mandiri, bagaimana tidak, sang bayi yang seharusnya mendapat kasih sayang dan perawatan utuh dari orang tuanya, pada kenyataannya hanya ditemani satu orang perawat untuk mengurus kebutuhan mereka. “Ini banyak ya, ada yang ditemuin di kardus, di musola, di depan rumah orang, semuanya kita bawa ke panti, diurus di sini”, petugas menjelaskan kepada kami. 

Selesai melihat ruang bayi, kami diajak menaiki tangga untuk menuju ke ruangan selanjutnya, yaitu ruangan untuk anak batita, sama seperti di ruangan sebelumnya, pengunjung hanya diperkenankan untuk mengamati melalui kaca jendela. Perasaan haru menyeruak dan mata saya menjadi hangat ketika melihat mereka berguling-guling sambil memegang botol susu, tertawa, menangis, dan menatap kami dari dalam ruangan itu. Terlintas di benak saya tentang bagaimana perasaan orang tua mereka andaikan menyaksikan bayi yang dahulu mereka tinggalkan kini telah tumbuh menjadi seorang anak yang lucu dan menggemaskan.



Interaksi antara pengunjung dan anak asuh melalui kaca di depan ruang batita

Selepas dari ruangan batita, kami menuju ke sebuah ruang bermain anak yang letaknya tidak jauh dari lapangan milik panti. Dapat saya lihat melalui jendela, beberapa anak berusia sekitar 4-5 tahun sedang bercanda dan berlarian, sementara yang lainnya sedang menunggu giliran untuk dipotong kukunya oleh perawat. “Ibu dan adik-adik bisa masuk ke dalam, main sama anak-anak”, demikian arahan dari petugas. Melihat kedatangan kami, seorang perawat membukakan pintu, kemudian kami diizinkan masuk. Seusai melepas alas kaki, kami masuk, anak-anak asuh di dalam ruangan memandang kami dengan tatapan ramah dan bersahabat. Nampaknya mereka memang sudah sering berinteraksi dengan pengunjung yang datang, sehingga tak lagi ada rasa sungkan ketika kami mulai mengajak mereka berkenalan, bercakap-cakap, dan bersenda gurau. Canda, tawa, dan rasa cinta menyertai kebersamaan kami kala itu. Setelah sekitar 30 menit bercakap-cakap dengan anak-anak, kami pamit untuk pulang.



Kebersamaan kami dengan anak-anak asuh di ruang bermain

Saat berjalan menuju kantor panti di bagian depan gedung, kami melewati tempat bermain luar ruangan untuk anak-anak asuh, dilengkapi mainan yang terawat, bersih, serta relatif aman untuk mereka. Kesan yang kami dapat setelah menelusuri hampir seluruh ruangan panti adalah, segenap petugas yang bekerja di panti sangat memperhatikan kebersihan area panti, lantainya bersih dari noda-noda jejak sepatu, sarana dan prasarananya dalam keadaan terawat, serta perabotnya tertata apik.

Sesampainya kami di kantor panti, saya menyerahkan bantuan berupa susu formula, bubur bayi, popok, dan kebutuhan lain kepada petugas. Sebagai ungkapan terima kasih, pihak panti memberikan kami sebuah surat yang ternyata merupakan sertifikat kunjungan. Di perjalananan pulang kami terdiam, tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Memang sudah menjadi hal lumrah bagi saya sebagai umat manusia, sangat mudah untuk menemukan kekurangan dan sulit melihat kelebihan dari suatu hal. Namun ketika melihat anak-anak asuh di panti yang matanya tetap berbinar dan senyumnya tetap merekah di tengah cobaan hidup yang sedang mereka jalani, saya seperti diingatkan bahwa sudah seharusnya kita mensyukuri apa yang kita miliki, bukan menyesali apa yang tidak kita miliki. Saya memutar kembali ingatan saya, mengingat hal-hal berharga yang saya miliki, dan ternyata tak terhitung! Mengutip sebuah kalimat dari sumber yang tidak diketahui, “Yang berharga tak selalu tercantum harga”.

Selasa, 19 Juni 2018

Assalamualaykum happy people, it's good to meet you again. Monmaap ini lagi semangat-semangatnya nulis :) Ini cuma aku atau banyak juga yang kadang suka kepikir sekilas info tentang kehidupan nanti, nanti banget, kalau seandainya orang tua terutama ibu, sudah ga bisa temanin kita lagi. Bayanginnya saja bikin aku mellow, air mata langsung genang. Bisa dibilang hubungan aku dan ibu itu dekat banget, almost semua kejadian yang aku alamin, aku ceritain ke ibu, begitupun sebaliknya. Mau cerita sedih, bahagia, memalukan, aku bagi semua sama ibu. Sebetulnya sih ibu ga memperlakukan aku dengan sweet nan lembut gitu. Ibu cenderung keras dalam ngajar aku. Contoh pertama, aku cerita tentang kejadian aku selisih paham sama temanku, tanggapan ibu itu ga belain aku, beliau bilang "Ya kamunya juga salah sih bla bla bla...". Contoh kedua, saat aku ngeluh sakit, ibu akan bilang "Itu biasa kok, makan yang banyak, minum obat, nanti juga sembuh". Ibu juga selalu paksa aku buat ngehadapin "ketakutanku", contohnya nih, aku kan punya "hubungan khusus" dengan makhluk imut nan lincah bernama kecoa. Ga tau kenapa kalau lihat dia, body aku jadi auto jingkrak-jingkrak. Pernah suatu malam entah kenapa itu kamar mandi aku dipenuhi makhluk imut itu beserta teman-temannya (mungkin mereka lagi reunian) dan parahnya tiba-tiba aku pengin pipis > < Aku bilang dong sama ibu "Bu, Pipit mau pipis tapi di kamar mandi banyak kecoa" (dengan harapan ibu bakal membumihanguskan mereka biar aku bisa pipis dengan aman dan sentosa). Ibu: "Ya ampun.. kamu sama kecoa kan gedean kamu. Pukul aja pakai sapu lidi" *lanjut nonton TV. "Ah ga berani Bu, pipit numpang pipis aja di tetangga deh ya?" *setengah nangis. Ibu: "Bener-bener ya.. ga masuk akal sama makhluk kecil gitu aja takut. Ga ada numpang pipis di tetangga, pipis sana buruan di kamar mandi!" Kalau nada ibu sudah naik jadi 4 oktaf apalah dayaku? Ambil sapu lidi, bawa aerosol, masuk kamar mandi sambil nangis *beneran nangis. Perang dimulai, tangan kanan ayunin sapu lidi kesana kemari, tangan kiri semprot aerosol. Tapi bener deh, karena "keterpaksaan" itu, aku jadi berani ngebasmi si imut + teman-temannya, kayak ada kekuatan ghaib gitu (kekuatan omelan ibu lebih tepatnya). Jadi setelah dirunut-runut, memang history perlakuan ibu ga ada yang sweet nan romantic, tapi impactnya malah jadi bagus buat diriku. Kalau dulu aku suka ngadu ke ibu kalau ada masalah, sekarang lebih ke berusaha banget buat nyelesain sendiri, cerita ke ibu pas masalahnya sudah selesai, at least sudah punya solusinya. Kalau dulu suka unek-unek sama perbuatan teman yang kurang mengenakkan, sekarang jadi lebih "ngaca", siapa tau akunya yang sikapnya ga betul. Andil ibu dalam social skill aku besar banget, ibu mempersiapkan aku sedemikian mandiri karena aku anak tunggal. Dulu suka mikir "kenapa sih gue salah terus kayaknya di mata nyokap?"  Baru sadar pas sudah dewasa, bahwa dibalik sikap ibu yang keras itu ada tujuan yang apik, mendidik aku biar bisa beradaptasi dengan baik. Makasih, Bu :)

Senin, 18 Juni 2018

Bye, fat. I won't miss you (Part 1)

Assalamualaykum happy people..... Minal aidin wal faidzin yaaa, mohon maaf lahir dan bathin :) Lamaaa betul aku ga nulis. Ya ini karena disambil nyicilin tugas kuliah yang ga nyantai, persiapan UTS, dan lagi banyak acara di sekolah tempat aku ngajar juga. Nah mumpung masih edisi leyeh-leyeh club lebaran jadi alhamdulillah ada cukup banyak waktu buat nulis, aku pengen banget sharing sedikit tentang goal aku yang kesampaian (alhamdulillah) di tahun ini. Let's read guys :) Jadi aku tuh suka banget lihatin foto-foto jadul keluargaku bareng ibu sambil cerita-cerita kapan foto itu diambil, cerita di balik foto-foto itu, dan sebagainya. Dari sekian banyak foto masa kecil aku, memang aku ga nemuin at least 1 foto dimana body aku kelihatan kurus > < Jadi memang dari kecilnya, aku tuh bodynya gempal berisi gitu, kalau menurutku sih bagus ya anak kecil bodynya berisi, jadi kelihatan sehat (berisi ya, ga sampai obesse kok :) ) Tapi ternyata "keberisian" bodyku nih awet kayak pakai formalin sampai dewasa, terlebih ada masa-masa dimana aku "gila" junkfood, kalau ga salah waktu sekolah SMK, di masa itu aku sering ngemilin pizza sampai 1 box yang ukuran large itu sendirian :( , addict banget sama ayam goreng tepung sampai-sampai 1 minggu bisa 3x makan itu. Terus ini hati mulai risih ketika ada beberapa orang yang manggil dengan sebutan "ibu". Contohnya misal pegawai minimarket: "Ada lagi tambahannya, Bu?" WHATTT?! kesel aja sih gitu rasanya dalam hati teriak-teriak "Helloooo gue tuh masih muda, Bu Bu aje lo". Kalau udah bete gitu biasanya aku curhat sama ibu. Dan you know sudah dari dulunya aku branding ibu sebagai "obat penenang" dan "malaikat pelindung", ketika nanggapin ceritaku ibu cuma bilang "Ya bagus dong dipanggil ibu, kan kamu emang calon ibu-ibu, daripada dipanggil bapak, lebih kesel mana hayo?" -__- Sangat positif ibunya. Selain dipanggil "ibu" dengan frekuensi yang lumayan sering, aku juga sering kena body shaming dari teman dan bahkan saudara, terutama kalau lagi momen kumpul keluarga. Misalnya "Pipit tambah gede aja badannya". Nah ini nusuk sih, apalagi kalau diucapinnya di depan orang banyak. Bukan ga pernah nyoba nurunin berat badan, mulai dari rutin jogging tiap minggu, ganti makan nasi pake oat, sampai ganti camilan pakai superfood macam granola dkk. Setiap 3 hari sekali nimbang dan ga ada penurunan, malah penyakit masa kecil; "asam lambung" jadi sering ngunjungin. Dan aku bertahan dengan body gempalku ini sampai akhir tahun 2017, ketika menjelang awal tahun 2018, di depan tempat kerjaku ada toko baru mau dibuka dan bagi-bagiin brosur, aku emang anaknya gitu, kalau dapat brosur pasti dibaca-baca dulu isinya tentang apa, ya siapa tau next time butuh. Eh ternyata brosur yang dibagiin itu tentang minuman herbal penurun berat badan, kalau teman-teman pernah dengar itu nama produknya herbalife. Itu brosur + slogan-slogannya menarik banget buat si pemilik tubuh gempal ini, gimana enggak? Kata "diet" yang tadinya terkesan "menyeramkan" dan "ribet" jadi terbayang menyenangkan dan mudah kalau pakai produk herbalife. Jadilah aku semangat banget nanya-nanya tentang herbalife. Dan ketika tau langsung shock + sedih... huhuhu... harga produk herbalife cenderung maharani kalau menurutku, buat 1 bulan treatmentnya bisa ngehabisin biaya kurang lebih Rp. 1.500.000an. Belum memungkinkan buatku beli produk herbalife karena gajiku juga harus ditabung untuk biaya kuliah S2. Alhasil ketika 1 lingkungan tempat kerjaku demam produk herbalife, aku ga terjangkit, padahal keinginan buat diet ini sudah ON lagi. Aku pikir semangat diet yang sudah naik ini ga boleh disia-siakan, googlinglah aku tentang metode diet yang simple dan ga butuh biaya banyak.

Bye, fat. I won't miss you (Part 2)

Setelah googling kesana kemari lihat diet mayo, diet keto, dll ketemulah aku sama metode diet 1.500 kalori yang menurutku tersimple dan ga butuh banyak biaya (teteup eiym). Caranya mudah banget, aku cuma harus batasin kalori yang masuk ke tubuhku per hari ga lebih dari 1.500. Karena prinsipnya begini, penurunan BB terjadi kalau kalori yang kita keluarkan lebih banyak daripada kalori yang masuk ke tubuh kita. Nah untuk nilai kalori dari setiap makanan, aku dibantu sama aplikasi fat secret atau bisa juga searching di google. Pengguna diet 1.500 kalori ini lumayan banyak, kalau teman-teman suka sama K-Pop atau Korean Drama pasti tau SNSD dan Park Shin Hye kan? Mereka pakai diet 1.500 kalori juga ternyata. Selain batasin kalori, mereka juga olahraga setiap hari. Bermodalkan pengetahuan dari mbah google, dengan baca bismillah, aku mulai diet tanggal 2 Januari 2018. Setiap hari aku isi jurnal makanan yang aku konsumsi + nilai kalorinya, sambil workout 2 hari sekali, per harinya 30 menit. Nah tentang olahraga ini, aku ga suka banget dari dulu sama olahraga yang monoton macam lari atau skipping, karena menurut aku ngebosenin dan bikin pengin cepet udahan. Jadi aku lebih pilih zumba dan dance cardio, full music jadi ga berasa lagi olahraga :) Selama diet ini aku ngejauhin banget yang namanya timbangan, bukan apa-apa takutnya kalau aku lihat ga ada pergeseran jarum timbangan, malah bikin males buat ngelanjutin dietnya. Sekitar 2 bulan kemudian, aku kena ISPA dan harus ke dokter, "terpaksa" jadi nimbang. Surprised banget pas lihat penurunan sebanyak 5kg, dari 69kg jadi 64kg. Mulai saat itu aku ga "musuhan" lagi sama timbangan, malah jadi sering nimbang buat pantau BB aku. Jurnal tetap diisi, workout jalan terus, BB perlahan turun dari 69kg jadi 64kg, terus 62kg, ke 60kg, 58kg, sampai postingan ini dipublish BB aku stay di 55-56kg :) FYI tinggiku 158cm, biarpun katanya masih kurang ideal tapi alhamdulillah ga serem banget sekarang kalau lihat timbangan. Proses penurunan BB aku memang ga sekilat kalau pakai produk herbalife, tapi aku nikmatin banget, karena akhirnya bisa turunin BB tanpa rogoh kocek dalam-dalam dan ga skip sarapan, sebetulnya sih bukan skip jadi kalau herbalife itu sarapannya diganti pakai shake bernutrisi, dan aku ini perutnya sangat Indonesia jadi kebayang kalau sarapan pakai shake baru jam 9 kepala bakal kunang-kunang > < Selama 6 bulan yang berharga itu, persepsiku tentang diet banyak berubah, dulu aki mikirnya namanya diet ya no nasi / makanan berat. This is totally wrong. Ketika aku ganti makanan beratku pakai oat, aku bosan banget sama rasa oat itu, akhirnya ga istiqomah dan kalap kalau lihat camilan. Dan dulu aku pikir, cemilan itu ga bikin BB naik, padahal camilan itu nilai kalorinya tinggi-tinggi juga loh, misalnya keripik singkong 1 genggamnya bisa mengandung lebih dari 100 kalori, bandingin sama 1 buah naga ukuran sedang yang kandunga kalorinya cuma 50. Kalau aku sih prefer makan buah naga daripada 1 genggam keripik singkong. Jadi kalau lagi on diet, pikir-pikir dulu kalau mau cemal-cemil, yang bisa ganjal perut tapi kalorinya ga tinggi. Dulu juga aku berpikiran namanya diet ya ga pakai lama, tapi ternyata penurunan BB itu adalah hasil dari usaha yang berkelanjutan dan konsisten. Oh ya selama diet kemarin, aku makan tetap 3x sehari; pagi, siang, dan sore, untuk lauk nasinya juga tetap makan masakan ibu, cuma kalau ibu lagi masak makanan yang berkalori tinggi, aku batasin ambil lauknya, yang penting per hari ga lewat dari 1.500 kalori. Aku juga stop makan pizza, burger, donat, kerupuk, ga nyentuh minuman kemasan kecuali hydro coco, dan no minuman bersoda. Ini cerita diet aku, yang alhamdulillah berhasil, tapi belum tentu benar ya, karena aku hanya cari info sendiri tanpa konsultasi dengan nutritionist atau personal trainer. Untuk orang dengan kondisi kesehatan tertentu, pastinya harus konsultasi dulu dengan ahlinya. Dan untuk teman-teman yang orang terdekatnya mengalami kelebihan berat badan, please jangan body shaming karena itu menyakitkan banget buat korbannya, kalau korbannya dibawa perasaan banget, bisa depresi. Karena gemuk itu ternyata ga selalu karena pola makan yang salah, ada juga kondisi kesehatan tertentu yang bikin BB ga bisa turun. Daripada body shaming, lebih baik ajak sharing atau motivasiin mereka :).

Senin, 22 Januari 2018

My Life, My Dream, My Choice

Assalamualaykum.. Apa kabar readers? Semoga semua sehat ya dan semoga hal-hal yang belum baik di tahun 2017, di tahun 2018 ini dapat diperbaiki... Mau cerita tentang kamu pemikiran saya selama ini. Jadi tentang kalimat "perdebatan yang tak pernah usai soal pilihan hidup perempuan" agaknya benar adanya. Ketika seseorang memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan hidupnya, banyak yang mendukung, tetapi tidak sedikit juga yang mempertanyakan, menyayangkan, dan seolah tahu yang terbaik terkadang mereka cenderung memaksa untuk tidak mengambil pilihan tersebut. Pilihan yang saya maksud di sini adalah sesuatu yang berkaitan dengan mimpi seseorang dan bukan tentang melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma ya readers. Hal ini terjadi ketika saya memutuskan untuk bekerja ketika lulus dari sekolah menengah kejuruan. Banyak orang yang bertanya, mengapa saya tidak kuliah? Bukankah pada masa sekarang ini lebih baik untuk memiliki pendidikan tinggi? Bukankah jika menunda kuliah akan lebih sulit karena sudah melupakan ritme dan beberapa pelajaran yang diterima saat sekolah? Mereka tidak tahu bahwa sebelum memutuskan hal tersebut, saya sudah berpikir matang-matang tentang kerja dan kuliah. Saya sibuk melamar ke beberapa tempat untuk mendapatkan pekerjaan, yang kemudian gajinya akan saya sisihkan untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Ternyata pada praktiknya, saya mendapatkan pekerjaan dengan jam kerja shifting, sehingga sulit bagi saya untuk mengatur antara kerja dan kuliah. Setelah 1 tahun bekerja shifting, saya pindah ke perusahaan dengan jam kerja office hour, setahun kemudian saya mendaftar kuliah di UNINDRA PGRI Jakarta dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tepat setelah memutuskan untuk mendaftar kuliah, pertanyaan datang dari kerja tentang untuk apa perempuan kuliah?  Kan nanti juga akan mengurus rumah tangga. Untuk apa kuliah? Toh banyak orang sukses yang latar belakang pendidikannya tidak tinggi. Kenapa kuliah ambil jurusan pendidikan? Emang nanti mau jadi guru ya? Berbagai pertanyaan yang diiringi pernyataan begitu banyak berdatangan. Lagi-lagi mereka tidak tahu, tujuan saya mendaftar kuliah selain untuk jenjang karir, juga untuk membahagiakan ibu saya tercinta yang ingin sekali melihat anaknya wisuda sarjana. Alhamdulillah, diberikan kemudahan oleh Allah, sampai dengan wisuda tanggal 30 September2017, terlaksana betapa bahagianya saya ketika melihat ibu saya tersenyum untuk foto keluarga. Lulus dari program sarjana, ibu menyarankan saya untuk langsung melanjutkan pasca sarjana yang pendaftarannya dibuka awal Desember 2017 kemarin. Saya sempat ragu untuk melanjutkan pasca sarjana karena ada beberapa hal yang ingin saya lakukan selain melanjutkan S2. Lebih baik untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih ringan dahulu, melanjutkan kuliah kemudian, begitu pikir saya. Namun setelah berkali-kali saya berdiskusi dengan ibu, pemikiran saya mulai terbuka. Tidak ada salahnya untuk melanjutkan ke jenjang pasca sarjana, selama niat hati baik, insyaa Allah akan diberikan kemudahan olehNya. Kemudian, mendaftarlah saya untuk jenjang pasca sarjana UNINDRA. Seperti yang sebelumnya, bahwa di setiap pilihan akan selalu ada perdebatan. maka bertanyalah mereka, memang sekarang pekerjaannya apa, kok harus lanjut S2? Memang nanti lulus mau kerja jadi apa kalau lulusan S2? Kenapa ga nikah dulu aja, katanya kan semakin tinggi pendidikan seorang cewek, maka jodoh semakin menjauh. Duh.. naudzubillah.. kenapa harus dibayangin yang negatifnya dulu ya? hehe.. Tapi saya jawab semua pertanyaan dengan senang hati, karena semangat untuk belajar dan membuat ibu tersenyum kedua kalinya saat wisuda sudah membayang-bayangi keseharian saya. Tidak ada kerugian yang didapat dalam menuntut ilmu, kalau menurut saya. Kalaupun ilmu tersebut tidak diaplikasikan di dunia pekerjaan, dapat bermanfaat dalam berkeluarga dan mendidik anak-anak saya kelak. Karena cara berpikir seorang ibu akan sangat mempengaruhi cara mereka dalam mendidik anak. Saya sering mendengar bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak, maka kebayang kan pentingnya ilmu untuk seorang perempuan. Masalah jodoh dan lain-lain, sambil kuliah saya akan terus minta sama Allah, insyaa Allah semua akan indah pada waktunya. Jadi sekarang saya tidak ragu untuk meraih mimpi-mimpi saya, masalah pertanyaan dan pernyataan yang saya terima, akan saya jadikan sebagai motivasi agar lebih giat dalam meraih mimpi-mimpi saya. Mengutip quote dari C.S Lewis, "You are never too old to set another goal or to dream a new dream".

Minggu, 17 Desember 2017

Face Your Fears

Berawal dari cerita kenangan masa sekolah saya, jadi saat duduk di bangku SMP saya sangat menghindari ekstrakurikuler renang dengan berbagai alasan. Ini bukan karena apa-apa, cuma satu : saya gak bisa renang. Begitu seterusnya sampai saya bersekolah di SMK, saya selalu menghindari ajakan teman-teman untuk renang bareng. Bukan saya malas belajar, tapi emang iya rasa takut tenggelam selalu membayangi saya. Jadilah sekian tahun saya hidup tanpa bisa berenang *hiks. Kemudian ketika bekerja sebagai pengajar, saya diharuskan mendampingi siswa ketika melakukan kegiatan waterplay swimming. Saya melihat siswa-siswa saya sudah banyak yang pandai renang, bahkan usia mereka belum ada yang lebih dari 6 tahun, kebayang kan ya gimana kagumnya saya sama mereka. Saya langsung terpikir "seru kali ya kalau bisa renang, jadi kalau main ke pantai ga cuma lari-lari manja dipinggirnya, kalau ke curug bisa lompat dari tebing terus renang di airnya yang segar itu". Karena saat itu saya masih sibuk (alhamdulillah) pagi kerja, malamnya kuliah, weekend ngedate sama tugas, jadi rencana belajar renang saya tunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Setelah wisuda, baru saya lihat lagi daftar resolusi saya yang belum terpenuhi, salah satunya yaitu : belajar renang. Saya kontak sahabat saya untuk ajari saya renang, tujuan kami adalah CX Waterpark, kolam renang yang terletak di daerah Ciracas, Jakarta Timur. Sesampainya di sana, saya ganti pakaian, kemudian renang dengan dibimbing oleh sahabat saya. Setelah mencoba kurang lebih selama 30 menit, AKHIRNYA SAYA BISA ! (biarpun teknik masih kacau). Ketika menyadari saya sudah bisa, saya teriak-teriak kegirangan "yeyeye bisaaaaaa akuu bisaaaa", sampai pengunjung lain yang ada di sana saat itu senyum-senyum, dan saya ingin menenggelamkan diri karena malu :P Karena sudah bisa, saya malah jadi ketagihan renang, kami renang lama sekali saat itu, sampai kulit saya terbakar matahari. Menyenangkan sekali ketika bisa melakukan hal yang selama ini kita takuti. Terkadang, dalam hidup kita rasa takut menjadi penghalang dan hambatan. Banyak potensi dalam diri kita yang tidak bisa dikembangkan karena terhalang rasa takut. Jadi, mulai sekarang saya akan mencoba untuk memilah-milah rasa takut saya :). Seperti kutipan dari Quote Ideas berikut ini, "It's okay to be scared sometimes. Courage is ability to face you fears not hide them".

Minggu, 12 November 2017

Ketika Buah Naga Dihiasi Belatung

Assalamualaikum... Baru sempat nulis lagi nih, maaf ya karena kemarin terhalang satu dan lain hal. Mau bahas buah kesukaan saya nih, naga merah. Saya suka banget mengonsumsi si naga ini, soalnya rasanya manis-manis juicy gitu, tekstur daging buahnya juga mudah dicerna, dan pastinya bermanfaat buat kesehatan lambung saya, jadi saya rutin makan buah naga minimal dua kali seminggu. 



Sore itu sebelum makan nasi, saya makan buah naga pakai cara favorit saya (buahnya dicuci, dibelah jadi 2 bagian, kemudian ambil sekop sendok, cuil-cuilin daging buahnya). Baca bismillah, kemudian saya makan. Suapan pertama sampai ketiga lancar, nah! disuapan keempat saya terdiam menatap bagian dasar dari si buah. Kok ada yang gerak-gerak ya? Saya diam sambil perhatiin terus, daaaaannnn..... huaaaaaa!!! Belatung kecil warna putih ada sekitar 3 ekor uget-uget di dasar buahnya. Saya langsung bawa buah naganya ke dapur dan bilang "maaf naga, kita sudahi sampai disini aja karena aku ga tahan sama si belatung" *Buang* Langsung terpikir sama beberapa suapan yang tadi sudah sempet masuk mulut, saya minum air putih 2 gelas demi memperlancar perjalanan si belatung yang mungkin tadi sudah termakan, karena saya ga mau sampai ada yang tertinggal di rongga mulut. Yuck! Kemudian malamnya saya mikir, apa yang terjadi ya sama binatang-binatang yang misalnya ga sengaja termakan sama kita. *googling* Dikutip dari m.klikdokter.com bahwa ga masalah jika kita menelan misalnya belatung buah kayak gitu, karena sistem pencernaan kita mempunyai pertahanan yang baik, salah satunya "asam lambung". Di dalam lambung, asam lambung akan membunuh bibit penyakit dan dihancurkan bersama dengan makanan. Selain itu, binatang yang ga sengaja tertelan biasanya sudah mati terlebih dahulu karena tingkat keasaman asam lambung itu tinggi sekali. Ternyata bukan cuma belatung buah yang kadang termakan, kutu daun, tungau, lalat buah, ulat jagung, atau kumbang kacang sering ikut termakan bersama sayuran/buah yang dihinggapinya. Jadi jika tidak terjadi reaksi apapun setelah memakannya, kita ga perlu khawatir, karena itu berarti mereka juga sudah dicerna dengan baik oleh sistem pencernaan kita. Masyaa Allah ya, ternyata tubuh kita sudah dirancang sedemikian kompleks oleh Sang Pencipta, banyak hal yang sudah dipersiapkan olehNya, di luar pengetahuan kita. Asam lambung, yang biasanya dianggap sebagai penyakit, ternyata mempunyai peranan yang luar biasa penting dalam tubuh kita :-). Demikian pengalaman saya sama belatung buah naga yang imut dan lucu itu. Teman-teman ada juga yang punya pengalaman serupa?

Jumat, 03 November 2017

Kulit wajah sensitif

Alhamdulillah akhir-akhir ini kulit wajah ga terasa panas lagi. Jadi ya, sebelum pakai sabun wajah yang sekarang ini, saya rajin menabung gonta ganti sabun pencuci wajah, terutama brand-brand asal Korea. Efek sering nonton drakor dan terobsesi punya kukit wajah cerah, mulus, glowing dan nyaris tanpa pori-pori :) Saya sempat coba the f*c* **op, i****free, dan e**de dengan khasiat yang berbeda-beda, mulai dari menerahkan, menghilangkan jerawat, dan mengencangkan kulit wajah. Ekspektasi saya tinggi banget sama sabun-sabun ini, mengingat harganya yang pricey. Pemakaian merk pertama, lumayan terlihat efeknya menurut saya, kulit wajah saya terlihat cerahnya (atau cuma perasaan saya saja? Hehe). Di pemakaian merk kedua, antusiasme mulai berkurang karena jerawat tidak membaik sama sekali, tapi masih saya teruskan karena ga bikin breakout. Nah di pemakaian merk ketiga, barulah ku menyadari saya merasakan penyesalan maksimal, gimana enggak? Pori-pori wajah saya jadi melebar, kulit wajah memerah dan terasa panas, jerawat juga bersemi dengan indahnya (bukan purging ya, karena ini radangnya sangat lama). Finally, saya stop memakai sabun tersebut segera, ga pakai tunggu habis 1 tube. Karena kulit wajah yang lagi meradang, saya ga berani pakai produk aneh-aneh. Tiba-tiba terpikir buat balikan sama si sabun batangan yang terkenal dengan 1/4 moisturizing creamnya. Harga bersahabat (sekitar Rp. 7.500/pc), mudah didapat (banyak dijual di minimarket), dan lembut banget di wajah, cocoklah dengan kulit wajah saya yang sensitif ini. Setelah pemakaian rutin selama -+ 1 bulan, alhamdulillah kulit wajah membaik, malah kalau saya perhatikan, pori-pori wajah juga mengecil :) Dari pengalaman ini saya belajar, bahaya banget coba-coba kalau berhubungan dengan kulit wajah, karena waktu breakout kemarin itu, selain rasanya ga nyaman, dilihatnya juga ga enak (merah parah!). Harga mahal ga menjamin khasiat produk tersebut lebih bagus dari produk yang lebih murah. Intinya, gunakanlah produk yang memang sudah cocok dengan kulit kita, kalaupun mau coba sebaiknya beli dalam kemasan kecil dulu, dan segera hentikan jika terjadi peradangan. Demikian cerita pengalaman saya kali ini, semoga bermanfaat ya!

Sabtu, 28 Oktober 2017

Kunjungan ke Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa, berbagi dan melembutkan hati

Assalamualaikum .. Saya jadi kepikir nulis tentang Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa ini karena lihat ulasan di google maps tentang panti ini, banyak yang tanya bolehkah seandainya kita berkunjung secara pribadi ke panti untuk berbagi dan sekedar bermain dengan anak-anak di sana? Boleh banget! Saya ceritain dulu ya, tanggal 5 Oktober kemarin adalah kunjungan kedua kalinya saya ke Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa. Setiap muharram, sekolah tempat saya mengajar rutin mengunjungi panti tersebut, kami kesana untuk berbagi dengan anak-anak yang tinggal di panti. Saat itu saya sampai di panti sekitar jam 9 pagi, kemudian disambut oleh ibu bagian resepsionisnya. Waktu itu bukan hanya saya, ada juga ibu dengan dua orang anak remajanya yang lagi berkunjung. Setelah itu, kami diajak berkeliling panti. Kesan pertama saat melihat ruangan-ruangan di panti itu adalah: BERSIH, lantainya bersih, ruangannya tertata rapi, gedung, sarana dan prasarananya sangat terawat. Ruangan pertama yang kami kunjungi adalah ruang bayi, pengunjung hanya diizinkan untuk melihat bayi-bayi lucu itu melalui jendela, di dalam ruangan bayi ada perawat yang siap siaga untuk mengurus keperluan sang bayi. 


Ruang selanjutnya itu ruangan untuk anak usia kira-kira 6-12 bulan (masih bayi juga kalau menurut saya :) ), Cuma anak-anak di ruangan ini tuh yang sudah mulai tengkurap, guling-guling, berdiri gitu. Sama ya, pengunjung hanya diperbolehkan untuk lihat-lihat dari jendela. 



Selanjutnya, kita diajak ke sebuah ruangan yang mirip playroom gitu, ada playmat dan dindingnya bergambar. Di dalam ruangan ini, pengunjung boleh masuk untuk berinteraksi (main, ngobrol, bercanda, bebas!)



 Terkesan juga sih karena anak-anak ini interaktif banget, mungkin karena sering interaksi sama visitor ya? Waktu main kita juga tidak dibatasi, jadi kita bisa asyik main dengan anak-anak tanpa khawatir jam berkunjungnya habis (tapi harus pengertian juga ya, jangan main dari dzuhur sampai bedug maghrib, kasian anak-anaknya capek :) xoxo). Setelah puas main sama anak-anak, kami pamit pulang. Jalan menuju kantor panti, di bagian depan gedung, kami melewati playground untuk anak-anak asuh, playgroundnya safe dan bersih. Kemudian kami serah terima bantuan dengan ibu bagian resepsionis, dan pengunjung diberikan ucapan terimakasih berbentuk kertas dan dimasukkan dalam amplop. Oh ya, buat teman-teman yang mau berkunjung dengan jumlah rombongan yang banyak,harap konfirmasi dulu, biar nanti disesuaikan jadwalnya oleh pihak panti. Kalau untuk yang jumlah rombongannya kurang dari 10 orang, bisa langsung datang kesana. Nah segitu saja ya cerita dari saya. Yang sudah pernah berkunjung bisa share guys, buat yang belum, coba deh sekali-sekali main ke Panti Asuhan Anak Tunas Bangsa, bisa bikin kita tambah bersyukur dan tambah sayang sama orang tua kita.

Selasa, 17 Oktober 2017

Mengulas Korea Monthly Magazine

Assalamualaikum, baru sempat kerjain blog lagi nih, kali ini mau bahas tentang majalah. Jadi sekitar 1 tahun yang lalu, saya menyatroni mengunjungi rumah teman yang sudah seperti kakak saya sendiri. Kita berdua sama-sama terjangkit korean wave, sering sharing tentang drama, musik, sampai makanan khas negri dongeng ginseng tersebut. Lagi asyik cerita tiba-tiba dia bilang "Dek, aku punya majalah korea, bawa aja nih, soalnya aku udah ga baca"(yang terpikir saat itu adalah majalah hiburan  korea dengan rubrik k-pop dan drama, ternyata bukan). Saya bawa pulang majalah-majalah itu dengan senang hati, sampai di rumah saya tumpuk majalah-majalah itu dengan niat saya selesaikan membaca saat itu juga. Pertama lihat cover, desainnya simpel dihiasi gambar yang tidak terlalu ramai dan didominasi warna netral, seperti putih, abu-abu, atau coklat muda.


Seperti ini covernya

Buka lembar pertama, OK I see majalah ini diketik dalam bahasa Inggris untuk memudahkan para pembaca dari seluruh dunia (kebayang kan kalo diketiknya pake hangeul). Ada beberapa rubrik di dalam majalah tersebut, yaitu cover story; menceritakan tentang gambar cover.



Travel; tentang tempat-tempat wisata alam di korea (didukung foto-foto yang kalau kalian lihat, langsung ngebet mau ke korea).


People; isinya tentang orang-orang berbakat di Korea dan karya-karyanya).


  Korea&I; menceritakan tentang tempat-tempat bersejarah di Korea (dilengkapi ilustrasi).

Arts&entertainment (part1, part2); tentang seni dan dunia hiburan korea.

Korea culture in brief; tentang kebudayaan-kebudayaan Korea (ada beberapa topik di dalamnya).

Literature; tentang penulis-penulis asal Korea serta karya-karyanya yang terapresiasi maksimal.


Policy Review; mengulas kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah Korea.


Global Korea; tentang events yang diadakan oleh The Korean Cultural Center di berbagai negara.

Flavor; ini rubrik favorit saya! tentang makanan khas Korea (dilengkapi resep dan foto-foto yang bikin laper!)


Learning Korean; Mengutip kalimat dari film atau lagu, lengkap dengan arti dan penjelasannya.


Keren-keren ya rubriknya. Overall, majalah ini useful untuk K-Popers, drama addict, Korean make up junkie, atau bahkan yang penasaran tentang Korea, kenapa mereka begitu digemari. Kalau menurut saya, majalah ini berperan untuk meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Korea, karena di dalamnya, Korea digambarkan begitu menyeluruh dan menarik, mulai dari sisi tradisional sampai sisi modernnya. For your info, majalah ini didistribusikan ke subscriber di seluruh dunia for free sejak tahun 2008 oleh The Korean Culture and Information Service (KOCIS). Teman saya mendapat majalah ini karena menang lomba yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center. setiap bulannya, majalah ini dikirim ke rumah teman saya tepat waktu lengkap dengan packagingnya yang rapi, lalu mereka akan migrasi ke rumah saya dengan senang hati :) Seandainya Indonesia juga menerbitkan majalah sejenis, pasti keren ya! Indonesia akan dikenal luas di mancanegara, secara kebudayaan, kerajinan, dan makanan Indonesia kan beragam banget. Atau malah Indonesia sudah menerbitkan? Teman-teman kalau tau infonya bisa share ya! Thank You.

Rabu, 11 Oktober 2017

Local Guides on Google Maps, untuk anda yang suka traveling dan wisata kuliner

Sore itu seperti hari-hari lainnya, saya dijemput oleh ibu saya sepulangnya dari tempat kerja. Karena cuaca sangat mendung dan menimbang perjalanan kami yang lumayan jauh, maka kami putuskan untuk menepi di sebuah warung Bakmi Jawa di bilangan Jalan Binamarga, Cipayung. Saya pesan bakmi goreng dan ibu pesan bakmi godhok. Ketika makanan disajikan di meja dengan tampilannya yang menggoda selera ditambah penerangan temaram dan interior warung bakmi yang sangat kental nuansa Jawa, jiwa fotografer amatiran sayapun terketuque terketuk. Ambil handphone orang di tas, cari angle yang pas, atur tingkat kecerahan, daaannnn... jepret! Jadilah foto sepiring bakmi goreng yang estetis. Kemudian saya log in instagram untuk posting foto tersebut beserta location saat itu. Ketika saya search di Google maps, tidak ada tempat dengan nama yang saya maksud, akhirnya iseng saya pilih opsi "add missing place" seperti ini :

Tampilan saat akan "add missing place" di google maps

Saya diminta untuk menambahkan bebrapa informasi terkait, seperti nama tempat yang ingin saya tambahkan, alamat tempat tersebut, jam operasional, website (jika ada), nomor telepon (jika ada), serta foto dari tempat tersebut. Setelah selesai, saya mendapat pemberitahuan bahwa Google Team akan meninjau terlebih dulu tempat yang saya tambahkan. Oh ya, biarpun masih perlu ditinjau oleh Google Team, saya tetap bisa posting foto makanan tadi dengan lokasi yang saya ajukan. Keeseokan harinya, saya mendapat email dari Google bahwa tempat yang saya ajukan di maps telah dikaji, ditinjau, diterawang disetujui oleh Google Team. Google Team juga menawarkan apakah saya ingin bergabung menjadi Local Guides. 

Ini email dari Google.


Saya tidak langsung mengiyakan. *gerak cepat* buka browser, search dengan keywords "apa itu Local Guides" dan "keuntungan menjadi local guides di google maps" xoxo.. Dilansir dari situs www.localguidesconnect.com beberapa keuntungan menjadi local guides:



Menarik juga ya guys? Terutama jika kita sudah mencapai level 5. Google menyelenggarakan Local Guides Summit setiap tahunnya di berbagai negara, dan Google akan mengundang 150 orang local guides terpilih dari seluruh dunia untuk menghadiri acara tersebut. Jadi, teman-teman kalau traveling atau wisata kuliner, siapkan kamera untuk mengambil foto dari tempat tersebut. Kemudian cek di Google Maps, kalau memang tempatnya sudah ada maka kita bisa memberi rating dan ulasan untuk tempat tersebut. Namun jika belum ada, kesempatan besar untuk kita menambah poin dengan menambahkan tempat tersebut di Google Maps. For your info guys, poin bisa didapatkan setelah kita memberi rating dan review tentang sebuah tempat yang kita kunjungi, poin semakin besar jika saat review disertakan foto. Poin juga bisa didapatkan setelah kita menambahkan tempat baru (ini besar poinnya).
Jadi kalau teman-teman suka traveling atau wisata kuliner, boleh banget coba menjadi local guides on google maps, niat mau share informasi kepada calon suami pengunjung tentang tempat yang akan mereka kunjungi, bisa dapat reward menarik. Who knows suatu saat nanti teman-teman akan mendapat undangan pernikahan dari Google untuk menghadiri Local Guides Summit? 
Selamat berkontribusi :) Local Guides Summit, tunggu aku yaaaaa !

Ini layar kontribusi saya :)



Selasa, 10 Oktober 2017

This is me

Halo.. Assalamualaikum. Saya Fitria Lusanda, biasa dipanggil Pipit. Hobi membaca, maka saya belajar menulis. Saya lulusan program sarjana Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Penggemar berat quotes karya mbak Fasih Radiana (selalu tunggu update-an mbaknya di instagram untuk discreenshot dan dijadikan foto profil whatsapp.. xoxo). Saya juga sering terjebak nostalgia di situs www.lakonhidup.wordpress.com (terjebak disini maksudnya ketika sedang luang kemudian buka situs untuk baca cerpen, niat dalam hati baca 1 judul saja hari ini.... *setelah cerita hampir selesai* Ini dari judulnya seru nih kayaknya... Ok 1 judul lagi... *dan begitu seterusnya sampai ternyata sudah baca sampai 7 judul*)
Selamat menikmati tulisan-tulisan sayaaa... mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf jika terdapat kekurangan dalam tulisan sang penulis pemula ini.

Assalamualaikum.. halo everyone Let me introduce myself first. My name is Fitria Lusanda and you can call me Ms Fitria or Ms Fit, as you lik...